" Masjid Syahabuddin merupakan masjid tertua di kota Siak Sri Indrapura "

1 komentar

Warisan Sultan Siak Sri Indrapura. Masjid Syahabuddin merupakan masjid kabupaten sekaligus masjid bersejarah peninggalan kesultanan Siak Sri Indrapura di kota Siak
Masjid Syahabuddin merupakan masjid tertua di kota Siak Sri Indrapura, ibukota kabupaten Siak di Provinsi Riau, masjid ini merupakan warisan dari Kesultanan Siak yang dibangun semasa kekuasaan Sultan Siak ke-12, Sultan Syarif Kasim II. Sehingga masjid ini sering dikenal masyarakat dengan sebutan Masjid Sultan Siak. Pasa masa kejayaan kesultanan Siak Sri Indrapura Masjid ini menjadi salah satu pusat pengkajian Islam terbesar di Asia Tenggara.
Sampai kini masjid tersebut masih menjadi tempat ibadah warga kota Siak. Apa lagi masjid ini dilengkapi fasilitas pendingin udara AC yang membuat ruangan masjid bertambah sejuk. Selama bulan Ramadan pun banyak masyarakat yang menjatuhkan pilihannya untuk melaksanakan salat fardu maupun sunah di masjid ini. Selain itu, di sebelah masjid juga terdapat makam sultan.

Megah dalam balutan warna kuning khas melayu dengan sedikit sentuhan warna hijau

 Selain menjadi tempat beribadah, masjid tersebut juga dijadikan lokasi wisata riligi. Berbagai tamu wisata baik lokal maupun mancanegara sering singgah barang sejenak di masjid ini. Diantara wisatawan lain, pengunjung dari negeri jiran Malaysia yang paling banyak mengunjungi masjid ini. Karena memang Kesultanan Siak pada mulanya berawal dari Kesultanan Johor di Malaysia.

Lokasi Masjid Syhabuddin Siak
Jl. Sultan Ismail Kota Siak Sri Indrapura
Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia
koordinat : 0° 47' 41.35" N 102° 2' 48.22" E

Masjid Syahabuddin terletak di Jl Sultan Ismail, tepat di persimpangan dengan ruas jalan Datuk Pesisir di kota Siak yang berjarak sekitar 30 meter dari bibir sungai Siak. Masjid berwarna kuning dengan polesan cat hijau dibeberapa tiang penyangganyanya ini dikelilingi rerumputan hijau yang menambah keindahan tersendiri. Ada dua bangunan megah dalam komplek masjid ini, yakni bangunan Masjid Syahabuddin dan bangunan kedua yang mirip dengan bangunan masjid modern dengan kubah bawang merupakan bangunan komplek pemakaman raja raja Siak, keluarga dan kerabatnya.
Kehadiran masjid ini tidak hanya sekedar menjadi tempat ibadah semata. Sejak dulu, Masjid Syhabuddin menjadi pusat pendidikan islam terbesar di Asia Tenggara. Pada waktu itu, Sultan mendatangkan guru-guru islam dari tanah Arab. Sejarah membuktikan, kerajaan Siak tempo dulu merupakan pusat pendidikan Islam terbesar di Asia Tenggara. Banyak negara sahabat seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand belajar pendidikan Islam di Kesultanan Siak.


Asal Muasal Nama Syahabuddin
Nama masjid Syahabudin diambil dari nama suku Syahad dari keturunan Sultan Kerajaan Siak yang berasal dari Arab, mulai dari Sultan ke-2 yaitu Sultan Muhammad Ali. Sumber yang lain mengatakan bahwa Nama masjid ini diambil dari nama imam Sayyid Osman Syahabuddin. Adapula yang mengartikan nama Masjid ini sebagai perpaduan dari dua kata “syah” yang berarti penguasa dan “Addin” yang berarti agama.
Sejarah Masjid Syahabuddin
Masjid Syahabudin yang pertama terletak di Jalan Syarif Kasim dibangun tahun 1302 Hijriah bertepatan dengan tahun 1882 Miladiah, berdekatan dengan istana kesultanan. Bangunan fisiknya terbuat dari kayu, di dalamnya terdapat mimbar yang berukir dari Jepang. Kemudian masjid Syahabudin dipindahkan secara permanen pembangunannya ke Jalan Sultan Ismail di tepi Sungai Siak, berjarak lebih kurang 300 M dari istana As Seraya Hasniliyah Siak.

Masjid Syahabuddin dari jalan Sultan Syarif Khasim 
Masjid Syahabudin didirikan oleh Sultan yang ke-12 bernama Sultan Assayyidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaefudin (Sultan Syarif Qasim II), dimulai pada tahun 1927 dan selesai dibangun pada tahun 1935. Dana pembangunan masjid tersebut berasal dari dana kerajaan dan partisipasi masyarakat Siak. Dalam pelaksanaan pembangunan masjid, untuk menimbun tanah khususnya pondasi masjid dilakukan secara gotong-royong oleh kaum ibu pada malam hari, mengingat masa itu masih berlaku Adat Pingitan bagi kaum wanita (pada masa Pemerintahan Sultan Syarif Qasim II).
Untuk menjadi imam pada masa itu persyaratannya telah lulus tes oleh Qodi Siak di zaman Sultan pada masa itu. Kepengurusan Masjid Syahabudin dikoordinir oleh Sultan Siak, karena itu yang menjadi imam dan khatib digaji oleh Sultan Siak. Diantara mereka adalah: H. Abdul Wahid, Tuan Lebay Abdul Muthalib, dan Imam Suhel.
Kemudian pada tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, seluruh aset kerajaan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia, sehingga masjid tersebut dijadikan masjid kecamatan. Dengan adanya pemekaran wilayah di Provinsi Riau, Siak menjadi kabupaten, maka masjid itupun naik status menjadi masjid kabupaten. Dengan demikian, selain bersatus sebagai masjid kabupaten, masjid ini juga menjadi masjid bersejarah.
 
Referensi
riau1.kemenag.go.id  - Masjid Syahabudin Siak
harian kompas, edisi minggu 10 Agustus 2003
 

1 komentar :

Posting Komentar

SEJARAH (ASAL MUASAL) BERDIRINYA KERAJAN SIAK SRI INDRAPURA

Tidak ada komentar

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Minuman Khas Melayu Siak "Laksamana Mengamuk"

3 komentar
Laksamana Mengamuk merupakan minuman segar yang menghadirkan bahan utama buah kuini.
Nama minuman ini berawal dari legenda kuno masyarakat Riau.


1. "Legenda" kisah di balik minuman laksaman mengamuk

minuman ini berawal dari legenda kuno masyarakat Riau. Alkisah, pada suatu hari, seorang laksamana mengamuk di kebun kuini. Dia marah, karena istrinya dibawa lari oleh tuan tanah, pemilik kebun kuini tersebut.

Saking kesalnya, Sang laksamana menebas-nebaskan pedang yang dibawanya ke segala penjuru kebun. Puluhan buah kuini jatuh berserakan di tanah dan hancur terkena amukan pedang sang laksamana.

Setelah laksamana puas melampiaskan kemarahannya dan pulang, masyarakat yang sebelumnya hanya berani menonton, kemudian mendekat ke kebun kuini. Masyarakat memunguti buah-buah kuini yang berserakan di tanah.

Masyarakat bingung, mau mereka apakan buah kuini yang telah terkoyak-koyak pedang laksamana itu. Hingga akhirnya seorang ibu-ibu mendapat ide. Ibu tersebut mengumpulkan buah-buah kuini tersebut dan memasukkannya ke dalam kuah santan dan gula merah.

Lalu, ibu itu kemudian membagi-bagikan minuman tadi ke masyarakat desa. Ternyata, masyarakat menyukai minuman tersebut. Dari situlah nama nama Laksamana Mengamuk muncul.

Minuman Khas Melayu Laksaman Mengamuk



2. Resep Minuman Laksamana Mengamuk 

A. Bahan-bahan Es Laksamana:
  • 600 gram es batu serut
  • 300 gram mangga kuini matang, potong kotak
Bahan Membuat Sirup Es Laksamana:
  • 300 gram gula pasir putih
  • 2 lembar daun pandan, ikat menyimpul
  • ¼ sendok teh garam dapur halus
  • 250 ml air putih
Bahan Membuat Kuah Es Laksamana:
  • 3 lembar daun pandan, ikat menyimpul
  • 600 ml santan kental
  • ¼ sendok teh garam dapur halus
B. Cara Membuat Minuman Laksamana Mengamuk
  1. Pertama silahkan anda persiapkan bahan untuk membuat sirupnya, dengan merebus air putih dulu dengan rebusan gula pasir didalamnya, kemudian tambahkan daun pandan yang sudah ditali, dan tambahan sedikit garam, aduk hingga gula benar-benar sudah melebur dengan air, dan harum. Angkat dan sisihkan
  2. Selanjutnya bahan untuk kuahnya, silahkan mulai dengan merebus santan kental,tunggu hingga mendidih, tambahakn garam dan daun pandan agar menambah gurih dan wangi aroma kuah, aduk lagi sampai mendidih, angkat bila sudah matang
  3. Simpan dalam gelas atau wadah yang telah disiapkan potongan mangga kuini, dan tambahan es batu untuk menambah kesegaran.
  4. Siram bagian atas dari bahan-bahan yang sudah dimasukan kedalam gelas sirupdan kuah es laksamana mengamuk
  5. Silahkan sajikan es laksamna mengamuk untuk hari yang lebih istimewa.



3 komentar :

Posting Komentar

Siak Sri Indrapura, "Daya Tarik Kerajaan Melayu Islam"

Tidak ada komentar
IBARAT berlian dalam lumpur, Kabupaten Siak di Provinsi Riau kini mulai bersinar setelah pemerintah memolesnya. Daya tarik sejarah, budaya, dan alamnya mengundang pelancong untuk berkunjung.

Empat remaja bermain di tepi Sungai Siak yang dibelakangi Masjid Raya Syahabuddin. Mereka memanjat pohon, saling siram, dan ejek. Saat azan berkumandang, para remaja yang berpakaian khas melayu itu bergegas masuk ke masjid. Jumlah jemaah meruah, mereka terpaksa shalat di halaman masjid bersama sebagian jemaah lain. Di antara mereka, terdapat dua warga Malaysia yang tengah berwisata dan turut shalat Jumat di sana.

Masjid Raya Syahabuddin selalu penuh sesak saat ibadah shalat Jumat. Masjid mungil dengan luas tapak 399 meter persegi ini merupakan salah satu bangunan kebanggaan masyarakat Siak.

Masjid Raya Syahabuddin dibangun pada 1926 semasa kejayaan Kerajaan Siak di bawah kepemimpinan Sultan Syarif Kasim II. Makanya, masjid bercat kuning ini juga dikenal dengan nama Masjid Kerajaan Siak.
 
Di samping masjid inilah jasad Sultan Syarif Kasim II dan para permaisurinya dikebumikan. Karena itu, tempat ini kerap dikunjungi pelancong. Selain ingin menikmati keindahan masjid, mereka juga ziarah ke makam sultan. ”Sultan ini terkenal berwibawa, mempunyai ilmu agama yang tinggi, dan baik budi. Makanya banyak yang berdoa di dekat makamnya,” ujar Bupati Siak Syamsuar.

Sultan Syarif Kasim II berjasa memperkuat basis agama. Dia mendirikan dua Madsarah Taufiqiyah untuk murid pria dan Annisa untuk perempuan. Kedua madrasah ini berdiri sekitar 20 meter dari Istana Siak, tak jauh dari masjid tersebut.

Sampai sekarang, bangunan kedua madrasah itu masih utuh. ”Sekarang bangunan Taufiqiyah kami fungsikan sebagai sekolah taman kanak-kanak, sementara gedung Annisa menjadi Istana Peraduan,” kata Kepala Bagian Humas Kabupaten Siak Juarman.

Kerajaan Siak

Sultan Syarif Kasim II merupakan penguasa Kerajaan Siak terakhir. Jika dirunut, dia adalah sultan ke-12 sejak kerajaan Siak didirikan oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah.
Raja Kecik merupakan keturunan Sultan Johor (Malaysia). Namun, karena perebutan takhta, dia harus meninggalkan Johor semasa masih dalam kandungan ibunya. Ketika dewasa, Raja Kecik merebut kesultanan Johor dari kekuasaan Datuk Bendahara Tun Habib atau Sultan Abdul Jalil Riayat Shah. Namun, keturunan Datuk Bendahara Tun Habib kembali merebut kekuasaan Raja Kecik sehingga perang tak terelakkan.

Korban berjatuhan. Rakyat sengsara. Kedua pihak akhirnya sepakat membagi daerah kekuasaan. Raja Kecik mendapat bagian Siak dan menyingkir ke Buantan, daerah pedalaman Sungai Siak. Dari sinilah Kerajaan Siak Sri Indrapura dia dirikan, sekaligus sebagai pusat penyebaran agama Islam.

Setelah lima kali pusat pemerintahan pindah, Kerajaan Siak menetap di Siak. Istana Siak yang dibangun dengan arsitektur campuran Eropa-Arab-Melayu berdiri tegak di tepi Jalan Sultan Syarif Hasyim, Kabupaten Siak.

Wisata sejarah

Dalam istana ini, pelancong dapat menikmati kemegahan kerajaan melalui peninggalan-peninggalan yang ada. Peninggalan yang termasuk istimewa adalah cermin awet muda. Cermin ini selalu dipakai permaisuri untuk berkaca dan mempertahankan kecantikannya. ”Pantulan dari cermin dipercaya mampu mengurangi efek penuaan,” kata Zainuddin, Koordinator Istana Sultan Siak, yang bertugas menjaga Istana Siak.

Entah betul atau tidak cerita itu. Yang jelas, di setiap musim puncak kunjungan pelancong, kaum hawa kerap antre sampai belasan meter untuk berkaca di cermin awet muda itu.

Yang juga menarik adalah Komet, sejenis gramofon, yang berisi musik-musik instrumental klasik abad XIII ciptaan komponis terkenal, seperti Beethoven, Mozart, dan Strauss. Komet yang berbentuk lemari setinggi 2 meter ini dibawa oleh Sultan Siak XI dari Jerman pada 1896.

Sampai sekarang, Komet masih berfungsi. Piringan-piringan baja yang berisi aransemen musik-musik klasik itu masih sangat terawat. Menurut Zainuddin, Komet hanya ada dua di dunia, satu di Jerman dan satu lagi di Istana Siak.

Daya tarik budaya

Kedekatan Kesultanan Siak dengan Johor (Malaysia) menumbuhkan budaya serumpun. Ketika keturunan dan kerabat istana berserak dari Siak, Brunei Singapura, dan Malaysia, mereka dipersatukan oleh budaya. Pemerintah Kabupaten Siak melihat peluang itu dengan menggelar Festival Siak Bermadah setiap Oktober. Mereka mengundang perwakilan suku melayu dari Johor, Malaka, Perak, Singapura, Brunei, dan Betawi.

Festival Siak Bermadah ini seperti pesta rakyat. Warga dari sejumlah kecamatan dimanjakan dengan beragam lomba, seperti lomba tari kreasi Melayu, syair, tari tradisional Melayu, berbalas pantun, lagu melayu, dan adat perkawinan Siak.

Jumlah pelancong pada saat Festival Siak Bermadah mencapai puluhan ribu orang. Mereka datang dari sejumlah daerah perwakilan suku Melayu. Bahkan, tak sedikit yang datang dari Lombok, Bali, dan Jawa. Banyak Juga pelancong datang untuk mengenal silsilah keluarganya.

”Kami ingin tahu nenek moyang kami karena katanya ada nenek moyang kami dari Johor yang menjadi sultan di Siak,” kata Wan Abdul Hadi (34), pelancong dari Johor, Malaysia.

Infrastruktur

Setelah kemerdekaan, Siak hanyalah sebuah kecamatan, bahkan statusnya nyaris menjadi kelurahan. Lokasinya yang dikelilingi sungai menjadikan Siak sulit dijangkau. Namun, warga terus berjuang dan sejak 1999, Siak resmi menjadi kabupaten.

Siak yang berpenduduk 457.533 jiwa ini menyimpan potensi kekayaan alam luar biasa. Produksi minyaknya mencapai 114.600 barrel per hari. Data Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak menunjukkan, Siak memiliki cadangan gas 22,5 miliar kaki kubik (BCF).

Dari hasil minyak ini, pemerintah terus memoles Siak sehingga semakin bersinar. Jalan berupa tanah gambut disulap Pemkab Siak menjadi jalan aspal mulus. Anggaran yang mereka keluarkan mencapai Rp 300 miliar per tahun.

Untuk memudahkan jangkauan pendatang, Pemkab Siak membangun beberapa jembatan. Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, sepanjang 1,5 kilometer, menghabiskan dana Rp 390 miliar. Jembatan ini menghubungkan pusat kota dengan jalan utama menuju Siak.

Jembatan lainnya adalah Jembatan Sultan Syarif Hasyim di Kecamatan Tualang yang menelan biaya Rp 191 miliar serta Jembatan Raja Kecik di Kecamatan Sungai Apit dan Sabak Auh. Semua jembatan tersebut memudahkan mobilitas pelancong dan warga Siak. Jika dulu pendatang harus naik kapal untuk menjangkau Siak, kini bisa dengan menggunakan alat transportasi darat.

Siak yang berjarak sekitar 120 km dari Pekanbaru dapat dijangkau dengan menggunakan angkutan umum kapal. Tarif angkutan umum Rp 30.000, sementara kapal Rp 60.000. Jika bersama keluarga atau teman, sebaiknya menggunakan mobil pribadi atau mobil sewaan. Sebab, di Siak nyaris tak ada angkutan umum, kecuali becak yang jumlahnya tak lebih dari 30 unit.

Jarak Siak dari Singapura hanya 150 km. Pelancong dari Malaysia dan Singapura biasanya naik kapal dengan waktu tempuh empat jam. Pemkab Siak membangun tiga pelabuhan, yakni Pelabuhan Buatan, Pelabuhan Perawang, dan Pelabuhan Siak Sri Indrapura.

Jika bosan dengan wisata sejarah dan religi, cobalah wisata alam Siak. Sekitar 50 km dari pusat kota terdapat Danau Zamrud yang masih perawan. Tantangannya, pelancong dipaksa memasuki belantara hutan gambut dengan perahu tradisional, melewati anak sungai untuk menjangkau Danau Zamrud. Tempat ini sangat nyaman untuk memancing atau sekadar menikmati udara segar.


sumber:http://nasional.kompas.com/read/2012/08/18/1522518

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

"Asal Usul Nama Sungai Siak"

Tidak ada komentar

poto tepian sungai siak

Bagi Encik dan Puan yang berada di Provinsi Riau, tentu sudah tak asing lagi dengan sungai yang satu ini, Sungai Siak.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

"Tour Club Pecinta Motor Gede (MOGE) Se-Indonesia" Kunjugi Kota Siak

Tidak ada komentar
Club Moge


SIAK, RIAUGREEN.COM - Kedatangan Rombongan Motor Gede di Kota Siak Riau disambut langsung oleh plt. Sekda Siak H. Jamaluddin, sebelum rombongan melakukan kunjungan wisata di kota siak, rombongan melakukan temu ramah dengan pemerintah kabupaten siak yang diwakili oleh Plt. Sekda Siak H. Jamaluddin, acara yang berlangsung di Gedung Tengku Mahratu siang Minggu (14/05/17) dihadiri Wakapolres Siak, Kompol Yudhi palmi, Kasat Lantas, AKP. Anindhita Rizal serta ratusan peserta Tour club pecinta motor gede (Moge) se-indonesia dari pekan baru.

Jamaluddin mewakili Pemerintah kabupaten siak dalam acara tersebut mengatakan, Selamat datang rombongan pecinta motor gede di kota siak, pada kesempatan itu jamal sedikit bercerita tentang siak dihadapan ratusan peserta Riau Bike week 2017, Kabupaten Siak memiliki potensi pariwisata yang dapat dijual baik dilokal maupun manca negara kedepan pemerintah kabupaten siak inggin daerah ini sebagai tujuan wisata yang maju di kawasan Sumatra.

Dikabupaten siak terdapat bangunan peninggalan sejarah yaitu Istana Siak yang saat ini masih terawatt keasliannya, pada masa kejayaan sultan siak memiliki mekuasaan yang cukup luas. Kerajaan siak merupakan kerajaan melayu terbesar semasa itu terang jamal. Ia juga menambahkan kegiatan ini merupakan kegiatan positif dimana kita dapat berkunjung ke luar daerah melihat objek wisata yang dimiliki daerah tersebut da ia berharap kepada biker pangilan pecinta moter gede jika bapak ibu berkunjung ke suatu daerah hendaknya menceritakan dan mempromosikan potensi pariwisata kabupaten siak agar mereka berkunjung kesiak.

Sementara itu ketua rombongan Wisata Peserta Riau Bike Week 2017 Rudi saat memberikan kata sambutan mengungkapkan kegiatan ini merupakan agenda rutiny yang dilakukan setiap tiga tahun sekali, dimana pecinta moge dari Jakarta,Surabaya,bandung dan medan serta wilayah lainnya berkumpul di suatu daerah dan melakukan serangkayan acara baik acara internal juga bakti sosial, di tunjuknya siak sebagai kunjungan wisata karena siak memiliki objek wisata yang menarik untuk di kunjungi.

Rudi juga menambahkan tidak semua biker yang hadir pada kegiatan ini namun didalam rombongan Riau Bike Week 2017 saat ini ada perwakilan dari Malaysia, Batam, Medan dan Singapura yang dimana mereka berangkat bersama-sama dari kota pekan baru, saat ini yang mengikuti touring berjumlah 70 moge dalam kesempatan itu rudi mengucapkan terimakasih kepada pemerintah kabupaten siak yang telah mempasilitasi kegiatan ini, dalam kesempatan itu hadir juga Club lokal Modis Motor Sicel Siak yang turut juga meramaikan kegiatan teresebut.

sumber :http://riaugreen.com/view/Siak/26248/Tour-Club-Pecinta-Motor-Gede-Se-Indonesia-Kunjugi-Kota-Siak-.html#.WR2XmqLDjVk

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

"Sungai Apit Bertekad Tahan Gelar Juara Umum Untuk MTQ di Kabupaten Siak"

Tidak ada komentar

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

"Wisata Taman Nasional Zamrud", Kab Siak, Prov Riau

4 komentar
Taman Nasional Zamrud merupakan kawasan hutan yang memiliki dua danau unik yakni Danau Pulau Besar dan Danau Bawah. Kedua danau itu juga berada dikawasan hamparan ladang minyak bumi yang dikelola pemerintah Kabupaten Siak. Danau Zamrud ini terletak di Desa Zamrud, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Jika dari Pekanbaru berjarak sekitar 180 kilometer, lokasinya memang cukup jauh.

Sumber: Linkarnews.com

Jika menggunakan kendaraan mobil atau motor maka jarak tersebut dapat ditempuh dalam waktu 3 jam perjalanan. Kawasan tersebut cukup jauh, selain itu tidak ada angkutan umum yang melewati kawasan tersebut sehingga bisa menggunakan jasa rental mobil, dan mobil sewa, mobil pribadi. Sebelum memasuki kawasan Danau Zamrud ini pengunjung diharuskan meminta izin masuk ke Badan Operasi Bersama (BOB) CPP Block.

Kawasan ladang minyak di sekitar Danau Zamrud dikelola PT Bumi Siak Pusako dan Pertamina Hulu yang membentuk BOB. Oleh sebab itu kawasan danau tersebut bisa aman dan terjaga dari pencemaran. Air disini hitam kecoklatan, namum ini bukan karena pencemaran tapi ini ciri khas air dihutan gambut. Hutan zamrud merupakan hutan rawa primer di atas lahan gambut. 

Sumber: Youtube.com

Danau Zamrud ini jauh dari pemukiman penduduk sehingga memiliki panorama alam yang eksotik. Hutan yang masih alami memiliki udara yang bersih dan sejuk. Dua danau besar disini dipinggirnya kelilingi oleh tanaman pinang merah dan tanaman rawa lainnya.

Kawasan Hutan di Danau Zamrud ini kita masih bisa menemukan berbagai jenis satwa langka seperti ikan arwana emas, ikan Balido, harimau sumatera, beruang merah, burung Serindit yang menjadi ikon Provinsi Riau juga dapat ditemukan di kawasan ini. Ingat ya kawasan hutan ini dilindungi jadi jangan coba-coba berburu disini ya.

Ikan Arwana Emas di Taman Nasional Hutan Zamrud

Sumber: Ceritapolitik.com
Menurut informasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau terdapat 38 jenis burung yang 12 diantaranya dilindungi seperti bangau putih, enggang palung, enggang benguk, enggang dua warna, dan enggang ekor hitam. Jika kamu penasaran silah cari diinternet.

Hewan ini jarang menampakkan diri pada siang hari tapi mereka nantinya akan keluaar pada malam hari. Biasanya waktu sore hari hewan-hewan ini seperti burung elang, kera, dan harimau mulai menampakkan diri satu persatu. Untuk tumbuhan kawasan ini didominasi oleh tumbuhan rawa seperti bengku, rengas dan pisang-pisang.

Di kawasan Danau Zamrud ini juga terdapat pula empat jenis primata, salah satu yang cukup terkenal adalah siamang. Di dalam danau ada 14 jenis ikan unik yang memiliki nilai ekonomi. Di kawasan danau terdapat vegetasi langka jenis pinang merah. Uniknya tanaman pinang merah disini berbeda dengan pinang merah hias karena warnanya lebih cerah.


Sumber: Okezone.com


Berdasarkan informasi dari Okezone, pemerintah Republik Indonesia juga sudah menetapkan Zamrud sebagai Taman Nasional. Peresmiannya dilakukan oleh Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla yang didampingin oleh Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya dan Bupati Siak Syamsuar pada Hari Lingkungan Hidup yaitu pada 23 Juli 2016. Sebelum menjadi taman nasional, Zamrud merupakan Suaka Marga. Taman Nasional Zamrud memiliki luas sekitar 31.480 hektar. Untuk pengelolaan Taman Nasional Zamrud, Pemeritah bekerjasama dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) April Group dan juga BOB.

Oleh karena itu sekarang ini Taman Nasional Hutan Zamrud ini sudah bisa dimanfaat untuk kegiatan penelitian dan wisata.

Pulau di Danau Pulau Besar Taman Nasional Hutan Zamrud

wisata alam danau naga sakti

 Pengunjung di Taman Nasional Hutan Zamrud yang Berburu Foto


wisata alam danau zamrud



sumber : http://www.bertravel.com/forum/discussion/62/wisata-di-taman-nasional-zamrud-siak-riau

4 komentar :

Posting Komentar

Taman Lalu Lintas Tanjung Agung, Wahana Edukasi Lalu Lintas di Kota Siak

1 komentar
Dikota Siak terdapat sebuah taman yang unik dan berbeda dari taman kebanyakan. Kalau biasanya sebuah taman dikelilingi oleh tanaman hias dan pemandangan hijau, maka di Taman ini kita akan melihat banyak sekali  "Rambu-Rambu Lalu Lintas" lengkap dengan marka jalannya. Taman ini disebut Taman Lalu Lintas Tanjung Agung.

Taman Lalu Lintas Tanjung Agung

Taman Lalu Lintas Tanjung Agung berada di kota Siak, kecamatan Mempura, kabupaten Siak propinsi Riau, tepatnya berlokasi di Komplek Perkantoran Kabupaten Siak. Taman Lalu Lintas yang dibangun diatas lahan seluas 2 Ha ini mulai dikerjakan sejak tahun 2014 dan baru diresmikan oleh Kapolda Riau Brigjen Pol. Drs. Supriyanto pada tanggal 19 September 2016 silam.
Taman yang berfungsi sebagai taman bermain dan taman pendidikan ini dibangun sebagai wujud kepedulian Polri dan Pemda setempat akan pentingnya kesadaran berlalu lintas.  Tujuan dibangunnya taman ini untuk mengenalkan pengetahuan berlalu lintas sejak dini terhadap anak-anak dan warga sekitar.
Taman yang merupakan Taman Lalu Lintas pertama di propinsi Riau bahkan mungkin di Sumatera ini didesign sebagai miniatur jalan raya dilengkapi dengan berbagai macam rambu-rambu lalu lintas. Disini warga atau pengunjung akan mengenal lebih banyak pengetahuan tentang simbol dan fungsi rambu-rambu yang lalu lintas yang selama ini mungkin belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat.


Idealnya sebuah taman bermain, taman ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas bermain seperti ayunan dan perosotan. Berbagai fasilitas ini tentu saja akan dapat membuat acara bermain anak-anak semakin seru dan menggembirakan. Walaupun cuaca agak sedikit mendung pada saat itu, tetapi antusias warga cukup besar untuk tetap mengunjungi Taman Lalu Lintas Tanjung Agung. Terlihat beberapa anak-anak asyik bermain didampingi oleh keluarga ataupun orang tua mereka.




Katanya sih, kedepannya akan dibangun beberapa fasilitas penunjang untuk pengembangan taman ini seperti miniatur jalur kereta api dan pelabuhan, kawasan bersepeda termasuk pedestrian untuk kaum difabel. Keberadaan taman ini sungguh sangat bermanfaat bagi masyarakat dan juga menjadi kebanggaan bagi masyarakat kabupaten Siak. Selain sebagai sarana bermain juga dapat dijadikan sarana pembelajaran tentang tertib berlalu lintas.

Yuk berwisata edukasi ke Taman Lalu Lintas Tanjung Agung Siak. Mari kita manfaatkan taman ini sebagai wahana bermain dan belajar bagi keluarga. Kita jaga bersama fasilitas yang ada dengan baik agar dapat dinikmati oleh generasi penerus kita.


sumber : http://wonderfulllfe.blogspot.co.id/2016/11/taman-lalu-lintas-tanjung-agung-wahana.html

1 komentar :

Posting Komentar

Bupati Siak Dorong Permainan Gasing Jadi Iven Pariwisata yang Mendunia

Tidak ada komentar
Bupati Siak H Syamsuar melepas gasing tanda dibukanya turnamen ini di lapangan bila Kualian, Siak.
SIAK SRI INDRAPURA, - Bupati Siak H Syamsuar mendukung kegiatan olahraga turnamen gasing dan layang-layang yang ditaja Masyarakat Peduli Kabupaten Siak (MPKS) di lapangan sepakbola Kualian, Kelurahan Kampung Rempak, Kecamatan Siak, Kabupaten Siak. Permainan anak Melayu ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Siak. Karena gasing merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Melayu di Provinsi Riau.

"Waktu acara di Taman Mini Jakarta beberapa waktu lalu, banyak anak-anak begitu tertarik dengan gasing yang dimainkan anak-anak Siak. Bahkan, Kementerian Pariwasata mendorong kita untuk ikut serta festival seni di Bali untuk menampilkan permainan gasing. Saya sangat mendukung kegiatan ini dan berharap permainan gasing bisa dikenal dunia," kata Syamsuar saat membuka turnamen gasing dan layang-layang, Kamis (11/5/2017). 

Dia berharap agar turnamen gasing dan permainan masyarakat melayu lainnya bisa dilaksanakan setiap tahun. Sehingga, bisa dijadikan sebagai agenda tahunan pariwisata di Kabupaten Siak. "Kalau bisa setiap tahun dilaksanakan dan dipromosikan melalui Dinas Pariwisata agar wisatawan bisa melihat langsung permainan gasing ini saat datang ke Siak," ujar Syamsuar.

 Ketua MPKS Wan Hamzah sangat mendukung keinginan Bupati agar turnamen gasing dilaksanakan setiap tahun. Dia berharap, Pemkab Siak dapat membangunan lapangan permainan gasing yang permanen, sehingga turnamen ini bisa dilaksanakan setiap tahun. 

"Terima kasih atas dukungan Pak Bupati, tentu ini menjadi motivasi bagi kita agar turnamen gasing bisa dilaksanakan setiap tahun," ujarnya kepada GoRiau.com. 

Untuk tahun ini, lanjutnya, panitia menyiapkan total hadiah Rp50 juta bagi para pemenang permainan gasing dan layang-layang. Dimana, peserta berasal dari sejumlah kabupaten/kota di Riau, seperti Bengkalis, Selatpanjang, Dumai, Pelalawan dan Pekanbaru.

"Ada 38 tim yang ikut untuk gasing bulat, dimana satu tim berjumlah 7 orang. Kemudian untuk lomba gasing piring atau kreasi diikuti 18 tim. Turnamen ini berlangsung dari 11-18 Mei 2017," pungkasnya. 

Tampak hadir saat pembukaan turnamen, Kajari Siak Zondri, Ketua Komisi I DPRD Siak Sujarwo, Sekcam Siak, Ketua KNPI Siak Ulil Amri dan ratusan peserta yang mengikuti kegiatan tersebut.

sumber: https://www.goriau.com/berita/siak/bupati-siak-dorong-permainan-gasing-jadi-iven-pariwisata-yang-mendunia.html

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Kampung Tanjung Kuras "Raja" MTQ di Kec Sungai Apit Kab siak

Tidak ada komentar

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Fakta dan mitos seputar istana siak sri indrapura ( kerajaan melayu islam Riau)

Tidak ada komentar

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Potensi Baru Wisata Siak "Danau Naga Sakti"

4 komentar
Wisata Alam Danau Naga Sakti
SIAK, YAZID.com – Sebagai destinasi wisata andalan di Provinsi Riau, Kabupaten Siak memiliki banyak sekali destinasi. Baik yang dikenal dan sudah terkelola, maupun yang belum mendapatkan sentuhan. Salah satunya, Danau Naga Sakti.

Danau dengan air berwarna hitam ini berada di Desa Dosan, Kecamatan Pusako. Kawasan ini sangat cocok dijadikan destinasi ekowisata, melengkapi beberapa destinasi serupa yang ada di Kabupaten Siak.

4 komentar :

Posting Komentar

"Tepian Bandar Sungai Jantan" Eksplore Wisata Siak

Tidak ada komentar

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Ekowisata Mangrove Rawa Mekar Jaya, Wisata Alam Baru di Siak

Tidak ada komentar

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

"Ekowisata Mangrove Mengkapan" Wisata Alam Siak

Tidak ada komentar

Tidak ada komentar :

Posting Komentar